KOBALT DAN EKSPLOITASI DI KONGO

 

Sumber: finance.detik.com 



BEMNEWS -- Mungkin jarang didengan mengenai kobalt, senyawa kimia yang terkandung dalam berbagai barang-barang yang kita gunakan sehari-hari. Mulai dari gawai, laptop, vape, hingga mobil listrik. Produksi-produksi peralatan tersebut memerlukan kobalt sebagai komponen penyusunnya. Negara penghasil kobalt terbesar di dunia adalah Kongo, negara ini terletak di kawasan Afrika Tengah yang berbatasan dengan Gabon, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Congo, provinsi Angola-Cabinda dan Teluk Guinea. Kongo sebagai penghasil 70% kobalt di dunia. Tidak heran bahwa kobalt yang terkandung di Kongo menjadi salah satu unsur penting dalam produksi alat-alat elektronik. 


Untuk menghasilkan kobalt yang banyak diperlukan banyak pekerja yang “mengeruk” kobalt di tambang sebagai pekerja kasar. Di tambang kobalt sendiri kebanyakan pekerja adalah anak-anak sehingga isu eksploitasi anak di Kongo sudah banyak dibicarakan. Eksploitasi ini sangat disayangkan, jika kita lihat bahwa dunia ini diklaim sudah banyak mengalami kemajuan. Tetapi, realitanya masih banyak eksploitasi-eksploitasi pekerja di bawah umur seperti ini yang terjadi. 

Dalam kasus eksploitasi ini pada Maret 2024, Pengadilan Banding AS untuk Distrik Columbia menyatakan, perusahaan-perusahaan teknologi yang dituntut (Apple, Alphabet Inc., Google, Dell, Microsoft, dan Tesla) tidak dapat dianggap bertanggung jawab atas tuntutan ekssploitasi anak di tambang kobalt Kongo. Karena kelimanya tidak memiliki hubungan lebih dari sekadar "transaksi pembeli-penjual biasa" dengan pemasok di Kongo. Walaupun sebetulnya Kongo telah meratifikasi seluruh poin dari Konvensi Internasional tentang tenaga kerja anak, namun International Labor Organization (ILO) menemukan bahwa penegakan hukum di Kongo masih jauh dari kata sesuai.

Isu tambang kobalt ini sudah lama disiarkan. Banyak pekerja yang bekerja di bawah kondisi eksploitasi dan perbudakan modern selain itu juga ada keterlibatan anak-anak sebagai pekerja di penambangan juga. Laporan Amnesty International mengungkapkan bahwa ada lebih dari 40.000 anak-anak yang bekerja di tambang-tambang kobalt di Kongo, beberapa di antaranya berusia di bawah 10 tahun. Anak-anak ini harus memikul beban berat, mengayak pasir, dan mencuci bijih dengan air yang tercemar. Mereka bekerja selama 12 jam sehari dengan upah maksimal 2 dola US.

Pelanggaran HAM yang masih terjadi ini sangat amat disayangkan. Kongo tidak melakukan dengan baik konvensi internasional mengenai HAM. Kondisi ini membuat masyarakat dieksploitasi secara besar-besaran untuk memenuhi perminataan kobalt yang semakin tinggi. Pemerintah seharusnya bisa lebih memfokuskan diri untuk mensejahterakan masyarakat bukan hanya mengejar keuntungan semata.


Penulis : Dept. Hukum dan HAM BEM Fakultas Hukum UMMI
Editor : Dept. Agitasi dan Propaganda Media BEM Fakultas Hukum UMMI


Referensi

Egidius Patnistik. “Hukum Di Kongo Gagal Melindungi Anak-Anak Dari Eksploitasi.”KOMPAS.com, Kompas.com, 8 Maret 2024, internasional.kompas.com/read/2024/03/08/123727570/hukum-di-kongo-gagalmelindungi-anak-anak-dari-eksploitasi#google_vignette. Accessed 24 June 2024.

Muhamad Sidiq , Riki. “Sisi Gelap Transisi Energi : Penambangan Kobalt Di Kongo Antara Kemakmuran Dan Kerugian .” Beritakbb.pikiran-Rakyat.com, 2023, beritakbb.pikiranrakyat.com/nasional/pr-967141508/sisi-gelap-transisi-energi-penambangan-kobalt-dikongo-antara-kemakmuran-dan-kerugian?page=all.

 


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KOBALT DAN EKSPLOITASI DI KONGO"

Posting Komentar